Laman

banner

Minggu, 17 Maret 2013

Anggota Kelompok 4

1. Okta Maria Ulva
2. Ahmad Jamaludin
3. Nor Laila
4. Paulina Novianti

HAKIKAT ANAK DIDIK

A.           Hakikat anak didik sebagai manusia
Sebelum  mempelajari secara khusus mengenai anak didik dalam kaitannya sebagai siswa, perlu kiranya melihat anak didik itu sebagai manusia dengan kata lain manusia adalah kunci utama dalam kegiatan pendidikan. Dalam hal ini, ada beberapa pandangan mengenai hakikat manusia.
1.      Pandangan Psikoanalitik
2.      Pandangan humanistik
3.      Pandangan martin buber
4.      Pandangan behavioristik

1.      Pandangan psikoanalitik
Para psikoanalitis beranggapan bahwa manusia pada hakikatnya digerakkan oleh dorongan-dorongan dari dalam dirinya yang bersifat instingtif . Tingkah laku individu ditentukan dan dikontrol oleh kekuatan psikologis yang memang sejak semula sudah ada pada diri setiap individu.

2.      Pandangan humanistik
Rogers, tokoh dari pandangan humanistik, berpendapat bahwa manusia memiliki dorongan untuk mengarahkan dirinya ketujuan yang positif.
Adler juga mendukung pandangan humanistik tersebut, ia berpendapat bahwa manusia tidak semata-mata digerakkan oleh dorongan untuk memuaskan kebutuhan dirinya sendiri, tetapi manusia digerkakkan dalam hidupnya sebagian oleh rasa tanggung jawab dan sebagian lagi oleh kebutuhan untuk mencapai sesuatu.

3.       Pandangan Martin Buber
Tohoh martin buber berpendapat bahwa hakikat manusia tidak dapat dikatakan ini atau itu. Manusia merupakan suatu keberadaan yang berpotensi, namun dihadapkan pada kesemestaan alam sehingga manusia itu terbatas. Ini berarti bahwa apa yang dilakukan tidak dpat diramalkan.

4.      Pandangan Behavioristik
Pandangan dari kaum behavioristik pada dasarnya menganggap bahwa manusia sepenuhnya adalah makhluk reaktif yang tingkah lakunya dikontrol oleh faktor-faktor yang datang dari luar. Faktor lingkungan inilah yang merupakan penentu tunggal dari tingkah laku manusia.

B.            Anak didik sebagai subjek belajar
Siswa atau anak didik adalah salah satu komponen manusiawi yang menempati posisi sentral dalam proses belajar mengajar, sebab relefan dengan uraian diatas bahwa siswa atau anak didiklah yang menjadi pokok persoalan dan sebagai tumpuan perhatian. Siswa atau anak didik itu akan menjadi faktor “ penentu”, sehingga menuntut dan dapat menpengaruhi segala sesuatu yang diperlukan untuk mencapai tujuan belajarnya. Dengan demikian, tidak tepat jika dikatakan bahwa siswa atau anak didik itu sebagai objek dalam proses belajar mengajar. Pandangan yang menganggap siswa itu sebagai objek, sebenarnya mendapat pengaruh oleh konsep tabularasa bahwa anak didik diibaratkan sebagai kertas putih yang dapat ditulis sekehendak hati oleh para guru atau pengajarnya. Dalam konsep ini berarti siswa hanya pasif seolah-olah barang, terserah mau diapakan, mau dibawa kemana, terserah kepada yang akan membawanya atau gurunya. Sebaliknya guru akan sangat dominan, ibarat raja di dalam kelas.

C.            Kebutuhan Siswa
Berikut ini adalah beberapa hal yang menjadi kebutuhan siswa, antara lain:
1.      Kebutuhan jasmani
2.      Kebutuhan sosial
3.      Kebutuhan intelektual

1.       Kebutuhan Jasmani
Hal ini berkaitan dengan tuntutan siswa yang bersifat jasmaniah, entah yang menyangkut kesehatan jasmani berupa olahraga yang menjadi materi utama. Disamping itu kebutuhan-kebutuhan lain seperti makan, minum, tidur, pakaian, dan sebagainya yang perlu mendapat perhatian.

2.      Kebutuhan Sosial
Pemenuhan saling bergaul sesama siswa dan guru serta orang lain merupakan salah satu upaya untuk memenuhi kebutuhan sosial anak didik atau siswa. Dalam hal ini sekolah harus dipandang sebagai lembaga tempat para siswa belajar, bergaul, dan beradaptasi dengan lingkungan, seperti misalnya bergaul sesama teman yang berbeda jenis kelamin, suku bangsa, agama, status sosial, dan kecakapan.

3.      Kebutuhan Intelektual
Setiap siswa tidak sama dengan dalam hal ini untuk mempelajari sesuatu ilmu pengetahuan. Mungkin ada yang lebih berminat belajar ekonomi, sejarah, biologi, atau yang lain. Minat semacam ini tidak dapat dipaksakan kalau ingin mencapai hasil belajar yang optimal.
Robert J. Havigurst dalam bukunya “Human Development Education”, mengemukakan suatu cara untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan anak didik. Menurut tokoh ini bahwa setiap orang harus dapat memenuhi tugas. Tugas tertentu dalam kehidupan sehari-hari. Pemenuhan tugas-tugas tertentu itulah disebutnya dengan  istilah Developmental tasked. Kesanggupan memenuhi tugas-tugas itu berarti akan memberi kepuasan dan kebahagiaan. Inilah yang dikatakan seseorang dapat memenuhi kebutuhannya. Berikut ini adalah beberapa develomental tasked yang harus dipenuhi oleh setiap individu manusia subjek belajar.
1.      Memahami dan menerima baik keadaan jasmani.
2.      Memperoleh hubungan yang memuaskan dengan teman-teman sebayanya.
3.      Mencapai hubungan yang lebih matang dengan orang dewasa.
4.      Mencapai kematangan emosional.
5.      Menuju kepada keadaan berdiri sendiri dalam lapangan finansial.
6.      Mencapai kematangan intelektual.
7.      Membentuk pandangan hidup.
8.      Memperisapkan diri untuk mendirikan rumah tangga sendiri.

D.           Pengembangan individu dan karakteristik siswa
Sudah populer di indonesia bahwa tujuan pendidikan nasional pada khususnya dan pembangunan pada umumnya adalah ingin menciptakan “manusia seutuhnya”. Yang dikatakan manusia utuh itu adlah individu-individu manusia, bukan kelompok sehingga manusia seutuhnya itu adalah persona atau individu yang mampu menjangkau segenap hubungan dengan Tuhan, dengan lingkungan, dengan manusia lain dalam suatu kehidupan manusia dan dengan dirinya sendiri.
Karakteristik siswa adalah keseluruhan kelakuan dan kemampuan yang ada pada siswa sebagai hasil dari pembawaan dan lingkungan sosialnya sehingga menentukan pola aktivitas dalam meraih cita-citanya. Berikut ini adalah beberapa karakterisitik siswa yang dapat mempengaruhi kegiatan belajar siswa antara lain:
1.    Latar belakang pengetahuan dan taraf pengetahuan
2.    Gaya belajar
3.    Tingkat kematangan
4.    Motivasi dan lain-lain.
Disamping keterangan di atas, guru dalam peranannya sebagai pendidik, pembimbing dan pengganti orang tua di sekolah, perlu mengetahui data-data pribadi dari anak didiknya. Data-data pribadi itu, misalnya:
1.    Keterangan pribadi, seperti: nama, tanggal dan tempat lahir, alamat, jenis kelamin, nama orang tua, agama.
2.    Keadaan rumah, seperti: pekerjaan ibu dan bapak, jumlah adik, pendidikan orang tua, agama orang tua, suasana rumah, status rumah.
3.    Kesehatan, seperti penyakit-penyakit tertentu, cacat badan, kebiasaan hidup.
4.    Sifat-sifat pribadi.

Sumber:
     Sadirman. 2011. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta:
               Rajagfarindo Persada.

17 komentar:

  1. Nani Marliani
    NIM A1B110222

    Kelompok telah menjelaskan menurut Pandangan dari kaum behavioristik pada dasarnya menganggap bahwa manusia sepenuhnya adalah makhluk reaktif yang tingkah lakunya dikontrol oleh faktor-faktor yang datang dari luar. Faktor lingkungan inilah yang merupakan penentu tunggal dari tingkah laku manusia.
    Faktor Lingkungan yang seperti apakah yang merupakan penentu tunggal dari tingkah laku manusia, tolong jelaskan serta berikan contohnya !

    BalasHapus
    Balasan
    1. Baik, begini saudari nani. Yang dimanksud dengan faktor lingkungan disini adalah faktor yang bersalal dari keadaan masyakrakat sekitar.Dimana faktor ini dapat menjadi penentu dari tingkah laku manusia. Dengan adanya faktor ini, kepribadian individu dapat dikembalikan kepada hubungan antara individu dengan lingkungannya.
      Kita bisa mengambil contoh pada anak didik saat ini. Kebanyaakan sekarang, jika anak didik bergaul dengan teman yang tidak baik atau kurang baik perilakunya kemungkinan besar anak tersebut bisa ikut kedalam pergaulannya, begitupun sebaliknya.
      Dari contoh tersebut dapat kita lihat bahwa faktor lingkungan dapat menentukan tingkah laku manusia. Dalam hal ini, manusia lebih cenderung mengikuti kebiasaan dan meniru.

      Hapus
    2. Komentar ini telah dihapus oleh penulis.

      Hapus
    3. Nama : Harmah
      NIM : A1B110211
      saya mencoba menanggapi pertanyaan nani.
      menurut kelompok 4, saya juga sependapat, bahwa faktor lingkungan yang mengubah tingkah laku anak didik yang selalu mengikuti kebiasaan dan meniru tanpa memikirkan kesalahan. Hanya saja semua berawal dari kedua orang tuanya. orang tua yang pertama menjadi peran penting dalam menjaga tingkah laku anak didik. Dengan selalu memperhatikan dan menjaga pergaulan anak didik.

      Hapus
  2. Nama: Laili Hidayati
    NIM : A1B110202

    Berbicara mengenai Hakikat anak didik sebagai manusia dalam kaitannya sebagai siswa, perlu kiranya melihat anak didik itu sebagai manusia dengan kata lain manusia adalah kunci utama dalam kegiatan pendidikan. Nah dari sikap dan pernytaan tersebut, saya dan kita semua yang nantinya adalah calon pendidik, bagaimana cara kita menyikapi anak didik kita agar tidak nakal berlebihan yang menyebabkan kita sebgai seorang pendidik yang manusiawi sekali kadang bisa marah atau terpancing emosi stelah dengan berbagai cara ank tersebut tidak mengindahkan , seperti yang kita ketahui banyak pemberitaan di media masa baik cetak maupun elektronik yang maksudnya menasehati siswa namun malah dengan cara kekerasan, Nah yang saya maksudkan di sini bagaimana jalan/cara yang seharusnya kita lakukan agar tidak terjadi hal yang demikian tersebut, karena tujuan pembeljaran kan memanusiakan manusia.Terimaksih

    BalasHapus
    Balasan
    1. kami ucapkan terimakasih terlebih dahulu kepada saudari kusniati yang telah menanggapi pertanyaan saudari laily.
      harus kita akui memang pada hakikatnya banyak sekali kekerasan yang terjadi disekolah, mungkin karena faktor anak didik tersebut yang susah untuk diberi pengarahan atau mungkin karena faktor lain. jadi jalan yang kita harus lakukan adalah lebih memberikan motivasi, pengarahan, serta kita harus mengelola kelas dengan baik dan kita harus sadari bahwa karakter siswa didalam kelas itu berbeda namun jika kita seorang guru yang profesional kita akan mampu mengatasinya.

      Hapus
  3. KUSNIATI ANDRIANI
    NIM A1B110215

    Menanggapi pertanyaan saudari Laili, pernyataan saudari laili memang benar adanya di lingkungan bahkan di media massa karena terpancing emosi seorang guru terpancing emosinya, sebenarnya itu hal yang manusiawi, tetapi sebagai seorang guru harus prefesional dan tahu hakikatnya sebagai seorang guru dalam bertindak tidak boleh ada kekerasan fisik. seperti memberikan hukuman yang bersifat positif contoh memberikan tugas. apabila di dalam kelas bisa kita suruh duduk di depan atau memberikan pertanyaan kepada siswa.
    terima kasih

    BalasHapus
  4. Helma Wahdah (NIM A1B110231)
    Assalamu’alaikum wr.wb.
    Kepada kelompok 4 saya ingin bertanya:
    1. Tolong jelaskan maksud dari “menuju kepada keadaan berdiri sendiri dalam lapangan finansial” dan “mencapai kematangan intelektual”!
    2. Apakah ada keterkaitan antara keduanya tersebut?
    Atas perhatian dan tanggapannya saya ucapkan terima kasih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wa'alaikum salam wr.wb.

      Terima kasih kepada Helma Wahdah
      Maksud dari "Menuju kepada keadaan berdiri sendiri dalam lapangan finansial" adalah mengarah ke pekerjaan. Anak didik pada suatu tingkat usia yang sudah memungkinkan, perlu diberikan motivasi dan pengarahan-pengarahan untuk suatu lapangan pekerjaan yang nantinya dapat dikerjakan dan sesuai dengan minatnya. Oleh karena itu, anak didik harus berusaha untuk mengenal berbagai lapangan pekerjaan untuk nantinya dikerjakan sebagai upaya berdiri sendiri dalam lapangan finansial.
      Sedangkan maksud dari "mencapai kematangan intelektual" adalah anak didik harus dilatih untuk mematangkan kemampuan intelektualnya. Sebagai warga belajar yang setiap kali melakukan kegiatan belajar, harus dapat berkembang pemikirannya ke arah berpikir yang objektif dan rasional, tidak emosional. Dalam hal ini peran guru sangat penting dalam upaya mengarahkan anak didiknya agar dapat mencapai kematangan intelektual.

      Tentu saja keduanya saling berkaitan, karena "menuju kepada keadaan berdiri sendiri dalam lapangan finansial” dan “mencapai kematangan intelektual" merupakan bagian dari pemenuhan tugas-tugas seseorang dalam memenuhi kebutuhannya agar dapat memberi kepuasan dan kebahagiaan. Apabila seseorang tersebut gagal dalam memenuhi tugas itu maka akan menimbulkan kekecewaan dan itu berarti dia telah gagal memenuhi kebutuhannya.

      Terima kasih.

      Hapus
  5. JENI ARINA
    A1B110253
    kelompok telah menjelaskan Para psikoanalitis beranggapan bahwa manusia pada hakikatnya digerakkan oleh dorongan-dorongan dari dalam dirinya yang bersifat instingtif . Tingkah laku individu ditentukan dan dikontrol oleh kekuatan psikologis yang memang sejak semula sudah ada pada diri setiap individu.
    maksud dari dorongan-dorongan yang bersifat instngtif itu seperti apa ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. SISWANTO ADI SAPUTRO
      A1B110233
      saya mencoba menanggapi pertayaan dari jeni.
      menurut saya maksud dari dorongan-dorongan yang bersifat instingtif atau naluri itu adalah dorongan yang sudah ada sejak lahir dan tidak dipelajari serta kemauan yang sudah merupakan naluri setiap manusia.
      contohnya:Dorongan mempertahankan hidup,dorongan untuk berinteraksi dan dorongan untuk meniru.

      Itulah tanggapan dari saya,sebelumya saya minta maaf kalau tanggapan saya melenceng dari yang ditanyakan.
      erimakasih.

      Hapus
    2. kami ucapkan terimakasih kepada saudara siswanto yang telah menanggapi.
      jadi seperti ini saudari jeni,dorongan yang bersifat instingtif itu lebih kepada tingkah laku individu yang ditentukan dan dikontrol oleh kekuatan psikologis yang memang sejak semula sudah ada pada setiap diri individu. dalam hal ini individu tidak memegang kendali atau tidak menentukan atas nasibnya sendiri, tetapi tingkah laku seseorang yang semata-mata diarahkan untuk memuaskan kebutuhan dan naluri biologisnya.

      Hapus
  6. Komentar ini telah dihapus oleh penulis.

    BalasHapus
  7. Norhalimah
    NIM A1B110239

    Sekarang ini pemerintah sudah tidak membedakan lagi antara pendidikan untuk anak yang berkebutuhan khusus dan anak yang memang normal. Yang ingin saya tanyakan apakah bekal yang akan kita siapkan untuk menghadapi keadaan tersebut? Terima kasih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jika pemerintah tidak lagi membedakan antara pendidikan berkebutuhan khusus dan pendidikan pada umumnya. kita sebagai calon guru harus memutar otak agar bisa menghadapi keadaan yang demikian. Salah satu upaya yang harus dilakukan adalah meningkatkan dan memperdalam ilmu pendidikan itu sendiri. selain itu, calon guru harus mengerti karakter dari peserta didik.

      Hapus
  8. Abdul Gani
    A1B108256

    Setelah saya membaca dan memahami tentang "Hakikat Anak Didik" adalah seorang guru sekarang ini memang harus pandai-pandai dalam milihat/menilai anak didiknya karena setiap anak didik pasti memiliki tingkah laku/kebisaan yang berbeda pula, jadi setiap guru harus memberikan pengarahan/bimbingan yang berbeda pula dalam menanggapi setiap anak didik. Seorang guru juga harus ingat bahwa apabila anak didiknya berhasil mencapai tujuan, berarti dia juga berhasi dan sukses dalam memberikan pelajaran dan pendidikan terhadap anak didiknya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya, kami sependapat dengan anda. Bahwa sebagai calon guru kita harus pandai-pandai dalam menghadapi peserta didik dalam proses belajar mengajar. Karena tugas seorang peserta didik tidak hanya mencerdaskan peserta didik saja. Melainkan pendidik jugas harus membentuk peserta didik yang bermoral.

      Hapus